Selasa, 16 Mei 2017

CARA BELAJAR YANG EFEKTIF

CARA BELAJAR YANG EFEKTIF



Ruri Rinukti Prabandani
Media Belajar

Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara pendidik dengan peserta didik, untuk mencapai tujuan pendidikan, yang berlangsung dalam lingkungan tertetu. Pendidikan merupakan dimana tempat pembelajaran dimana terkait dengan nilai-nilai, mendidik berarti memberikan, menanamkan, menumbuhkan” nilai-nilai pada peserta didik.Pendidikan berfungsi memabantu peserta didik dalam pengembangan dirinya, yaitu pengembangan semua potensi, kecakapan serta karakteristik pribadinya ke arah yang positif, baik bagi dirinya maupun lingkungan. Peserta didik juga memiliki kemampua untuk tumbuh dan berkembang sendiri.[1]
Tujuan pendidikan dan pengajara yang tercantum dalam UU No.2 Tahun 1989 tentang sistem Pendidikan Nasional: “Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia Indonesia yang seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbuci seperti luur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.
Kata kata yang terakhir ini mengandung ati bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk orang yang mempunyai sikap atau attitude sosial yang baik, yang mampu bekerja sama dengan lingkungannya, mampu mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan sendiri atau golongan. Berdasarkan tujuan tersebut , tujuan pendidikan dan pengajaran di sekolah selain memberikan kecakapan, juga mempunyai tugas untuk mengembangkan sikap sosial anak. Salah satu alat untuk mengembangkan sikap sosial ini adalah dengan menyelenggarakan kelompok belajar.[2]
Proses pendidikan selalu berlangsung dalam suatu lingkungan, yaitu lingkungan pendidikan. Lingkungan ini mencakup lingkungan fisik, sosial, intelektual, dan nilai-nilai. Lingkungan fisik terdiri atas lingkungan alam dan lingkungan alam dan lingkungan buatan manusia, yang merupakan tempat dan sekaligus memberikan dukungan dari lingkungan fisik berupa sarana, prasarana serta fasilitas yang digunakan. Tersedianya sarana, prasarana dan fasilitas fisik dalam jenis jumlah dan kualitas yang memadai, akan sangat mendukung berlangsungnya proses pendidikan yang efektif. Kekurangan sarana, prasarana dan fasilitas fisik, akan menghambat proses pendidikan dan menghambat pencapaian hasil yang maksimal.
Interaksi pendidikan dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat sekitar merupakan para pendidik, karena mereka berperan memberikan contoh atau telada kepada anak-anak dan remaja. Guru merupakan pendidik formal, karena latar belakang pendidikan. Pendidikan berlangsung dalam tiga bentuk yaitu pengajaran yang lebih terfokus pada pengembangan segi-segi intelektual, latihan pada segi-segi keterampilan dan bimbingan pada segi-segi afektif.[3]
Belajar selalu berkenaan dengan perubahan-perubahan pada diri orang yang belajar, apakah itu mengarah kepada yang lebih baik atau pun yang kurang baik, direncenakan atau tidak. Hal lain yang juga selalu terkait dalam belajar adalah pengalaman, pengalaman yang berbtuk interaksi dengan orang lain atau lingkungannya.[4] Unsur belajar merupakan fakor bagaimana proses belajar akan berhasil.
Tujuan.
            Belajar dimulai karena adanya sesuatu tujuan yang ingin dicapai. Tujuan itu muncul untuk mememnuhi sesuatu kebutuhan. Perbuatan belajar di arahkan kepada pencapaian sesuatu tujuan dan untuk memenuhi suatu kebutuhan. Sesuatu perbuata belajar akan efisien apabila terarah kepada tujuan yang jelas dan berarti bagi individu.
Kesiapan.
Untuk dapat melakukan perbuatan belajar dengan baik anak atau individu perlu memiliki kesiapan, baik kesiapan fisik maupun psikis, kesiapan yang berupa kematangan untuk melakukan sesuatu, maupun penguasaan pengetahuan dan kecakapan-kecakapan yang mendasarinya.
Situasi.
Dalam kegiatan belajar berlangsung situasi belajar yaitu tempat, lingkungan, alat dan bahan yang dipelajari, orang-orang ang turut tersangkut dalam kegiata belajar serta kondisi siswa yang belajar. Kelancaran hasil dari belajar banyak dipengaruhi oleh situasi ini, walaupun banyak individu dan pada wkatu tertentu sesuatu aspek dari situasi belajar ii lebih dominan sedang pada indivisdu atau waktu lain aspek lain yang lebih berpengaruh
Interprestasi.
Dalam menghadapi situasi , individu mengadakan interprestasi, yaitu melihat makna dari hubungan tersebut dan menghubungkannya dengan kemungkinan pencapaian tujuan yang dapat berhasil atau tidak dapatnya mencapai suatu tujuan.
Respons.
Berpegang kepada hasil dari interprestasi apakah individu mungkin atau tidak mungkin mencapai tujuan yang diharapkan, maka ia memberikan respons. respons ini mungkin berupa usaha coba-coba (trial and error), atau usaha yang penuh perhitungan dan perencanaan ataupun ia menghentikkan usahannya untuk mencapai tujuan tertentu.
Konsekuensi. Setiap usaha akan membawakan hasil, akibat atau konsekuensi entah itu keberhasilan ataupun kegagalan,demikian pula dengan respons atau usaha belajar berikutnya. Reaksi terhadap kegagalan. Selain keberhasilan, kemungkinanan lain yang diperoleh siswa dalam belajar adalah kegagalan. Peristiwa ini akan menimbulkan perasaan sedih dan kecewa. Kegagalan bisa menurunkan semangat, dan memperkecil usaha-usaha belajar selanjutnya , tetapi bisa juga sebaliknya, kegagalan membangkitkan semangat yang berlipat ganda untuk menebus dan menutupi kegagalan tersebut.[5]
Belajar merupakan hal yang erat kaitannya dengan prinsip ekonomi. Ada baiknya jika belajar mempunyai suatu prinsip. Tegasnya, makin cepat seseorang belajar dengan prestasi yang sama maka makin cepat seseorang belajar dengan prestasi yang sama maka makin baiklah keadaan itu. Dengan demikian, pada berlajar berlaku pula hukum efisiensi. Makin cepat seseorang belajar dengan hasil sama maka akan semakin baik. Cara belajar seperti itulah yang baik dan efisien. Ada pula orang yang mengatakan bahwa “belajar adalah time consuming job”.[6]
Banyak orang yag mengira dan berpendapat bahwa rndahnya prestasi belajar anak di sekolah disebabkan oleh rendahnya intelegensi si anak. Pendapat yang demikian tidak seluruhnya benar. Memang ada anak yang memiliki prestasi belajar yang rendah karena intelegensinya kurang, tetapi tidak semua demikian. Rendahnya prestasi belajar dapat disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah pemilihan cara belajar yang kurang tepat. Di dalam proses belajarpun , sering dijumpai adanya suatu plateau yang salah satu penyebabnya adalah cara atau teknik belajar yang tepat. Dengan demikian, tidaklah pada tempatnya memandang secara aprioris bahwa prestasi belajar yang rendah selalu disebabkan oleh rendahnya intelegensi. [7]
Banyak faktor yang harus diperhatikan didalam proses belajar tersebut. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses belajar. Seperti faktor individu itu sendiri. Faktor anak atau individu merupakan faktor yang penting. Anak jadi belajar atau tidak semangat tergantung kepada anak itu sendiri. Walaupun mungkin faktor-faktor yang lain telah memenuhi persyaratan, tetapi jika individu tersebut tidak mempunyai kemauan untuk belajar maka proses belajar itu tidak terjadi. Individu terbentuk dari fisik dan psikis yang masing-masing tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya dan saling mempengaruhi. Fisik mempengaruhi psikis, dmeikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, baik faktor fisik maupun psikis perlu diperhatikan dan dijaga dengan sebaik-baiknya. Berarti jika ada gangguan, baik dari segi fisik maupun psikis, hal tersebut akan berpengaruh terhadap prestasi belajar.
Kedua dari faktor lingkungan juga turut memgang peran yang penting. Pengertian lingkungan disini adalah termasuk peralatan. Oleh karena itu,hal ini harus mendapatkan perhatia sebaik-baiknya. Faktor lingkungan ini berhubungan dengan tempat.Tempat belajar yang baik merupakan tempat yang tesendiri, tenang , warna dindingnya sebaiknya jangan yang tajam atau yang mencolok, dan dalam  ruangan jangan sampai ada hal-hal yang dapat mengganggu perhatian (misalnya, gambar-gambar yang mencolok). Perlu pula diperhatikan tentang penerangan yang cukup karena penerangan yang kurang baik akan menyebabkan kelelahan pada mata, yang tentu akan mengganggu jalannya prose belajar. Ventilasi udara perlu diperhatikan sebaik-baiknya.[8]
Belajar proses dan belajar hasil. Dimuka telah diutarakan bahwa belajar itu sangat luas, dapat berlangsung di sekolah, dirumah ataupun di masyarakat, dilakukan sendiri atau dengan bantuan guru, berkenaan dengan hal-hal yangsederhana ataupun sangat kompleks. Kegiatan belajar disekolah bersifat formal, disengaja, dierencanakan, dengan bimbingan guru, serta pendidikan lainnya. Apa yang hendaknya dicapai dan dikuasai siswa ( tujuan belajar), bahan apa yang harus dipelajari (bahan ajaran), bagaimana siswa mempelajarinya (metode pembelajaran), serta bagaimana cara menegahui kemajuan belajar siswa (evaluasi), telah direncanakan dengan seksama dalam kurikulum sekolah. Kegiatan belajar yang dilaksanakan disekolah benar-benar disengaja dan direncenakan.
Kegiatan belajar sangat diperlukan, mengingat semakin banyaknya dan semakin tingginya tuntutan kehidupan masyarakat. Semakin tinggi taraf perkembangan masyarakat, semakin tinggi dan banyak tuntutan yang harus dipenuhi, semakin panjang masa belajar yang harus ditempuh sebelum anak bisa bekerja da hidup dengan wajar di masyarakat . setiap jenjang pendidikan mulai dari Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Tingkat Atas, Perguruan Tinggi, bahkan sampai Pascasarjana disediakan untuk menyiapkan anak agar mampu memenuhi tuntutan tersebut.[9] Dalam belajar terdapat faktor yang mempengaruhi proses belajar antara lain
Waktu Istirahat
Kalau sedang mempelajari sesuatu yang meliputi bahan yang banyakatau proses yang panjang, dan dilakukan sebagian-sebagian, perlu disediakan waktu-waktu tertentu untuk jeda dan istirahat sebaiknya tidak banyak kegiatan yang terkait atau masih berhubungan dengan hal yang dipelajari itu sehingga bahan yang sudah dipelajari punya cukup kesempatan untuk mengendap dalam ingatan. Jadi, kalau sedang belajar matematika, jangan berpikir tentang matematika ketika istirahat, kalau sedang belajar sejarah lupakan sejenak pelajaran sejarah. Istirahat menghindari kejenuhan otak sehingga proses belajar itu lebih efektif.
Pengetahuan tentang materi yang dipelajari secara menyeluruh :
Dalam mempelajari sesuatu lebih baik kalau kita pelajari dulu materi atau bahan yang ada secara keseluruhan, baru setelah itu pelajari dengan lebih seksama bagian-bagiannya. Berpikir menyeluruh yang relatif tinggi. Makin rumit persoalannya, semakin sukar ditangkap materinya sebagai keseluruhan. Oleh karena itu, kalau memang sesorang kurang mampu, lebih baik ia membagi-bagi dulu keseluruhan ke dalam bagian-bagian dan atau sub-bagiannya, mempelajari terlebih dahulu kemudian mempelajari (menghafalkan dan sebagainya) detail-detailnya, baru menyatukannya kembali ke dalam  suatu keseluruhan.
Dalam kaitan dengan pendidikan, prinsip pengetahuan materi menyeluruh ini diterapkan dengan memberitahukan kepada siswa pada proses awal belajar mengajar.
Permasalahan terhadap materi yang dipelajari
Kalau kita mempelajari sesuatu, tanpa pemahaman, maka usaha belajar kita akan memenuhi banyak kesulitan. Misalnya, dua orang disuruh menghafalakan puisi berbahasa inggris. Orang yang pertama mengerti bahasa inggris, sedangkan orang yang kedua tidak dapat berbahasa iggris. Akibatnya, bahan yang sama akan dihafal jauh lebih cepat oleh orang yang sama.
Pengetahuan akan prestasi sendiri
Kalau tiap kali kita dapat menegtahui hasil prestasi kita sendiri, yaitu mengetahui mana-mana yang masih salah (untuk diperbaiki) dan mana-mana yang sudah betul, maka akan lebih mudah kita memperbaiki kesalahan-kesalahan itu daripada kalau kita harus meraba-raba terus. Seringnya sudah benar, tapi kemudian dubah sehingga jadi tidak benar, sementara yang salah malah dibiarkan salah. Dengan kata lain, pengetahuan akan prestasi sendiri akan mempercepat kita dalam mempelajari sesuatu.
Transfer
Pengetahuan kita akan hal-hal yang pernah kita pelajari sebelumnya, bisa mempengaruhi proses belajar. Pengaruh ini disebut transfer. Transfer dapat berupa positif, kalau hasil belajar masa lalu memperudah proses belajar yang sekarang, tetapi transfer juga dapet bersifat negatif, kalau hasil belajar yang lalu justru menyulitkan proses belajar yang sekarang. [10]



[1] Nana Syaodih Sukmadinata, 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung: Pt. Remaja Rosdakarya, cet.iii
[2] Bimo Walgito, 2008. Bimbingan dan Konseling (Studi dan Karier), Yogyakarta: C.V Andi Ofset

[3]Nana Syaodiah Sukmadinata. Op.cit hlm.5
[4] Ibid, hlm.155
[5] Ibid, hlm.157
[6] Bimo walgito. Op.cit hlm.142
[7] Bimo walgito. Op.cit hlm.142
[8] Ibid, hlm.143
[9] Nana Syaodiah Sukmadinata. Op.cit hlm.177-178
[10] Sarlito W. Sarwono, 2012. Pengantar Psikologi Umum, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, cet.iv

0 komentar:

Posting Komentar

Bimbingan dan Konseling dalam Perspektif Islam

BIMBINGAN DAN KONSELING SOSIAL DALAM PERSPEKTIF ISLAM Makalah ini di susun untuk memenuhi tugas BK Sosial Dosen Pengampu : Cici Y...

 

MEDIA DALAM BK RURI Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang