CARA
BELAJAR YANG EFEKTIF
Media Belajar
Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara pendidik dengan peserta didik, untuk mencapai tujuan pendidikan, yang berlangsung dalam lingkungan tertetu. Pendidikan merupakan dimana tempat pembelajaran dimana terkait dengan nilai-nilai, mendidik berarti memberikan, menanamkan, menumbuhkan” nilai-nilai pada peserta didik.Pendidikan berfungsi memabantu peserta didik dalam pengembangan dirinya, yaitu pengembangan semua potensi, kecakapan serta karakteristik pribadinya ke arah yang positif, baik bagi dirinya maupun lingkungan. Peserta didik juga memiliki kemampua untuk tumbuh dan berkembang sendiri.[1]
Tujuan
pendidikan dan pengajara yang tercantum dalam UU No.2 Tahun 1989 tentang sistem
Pendidikan Nasional: “Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan
bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia Indonesia
yang seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang
Maha Esa dan berbuci seperti luur, memiliki pengetahuan dan keterampilan,
kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa
tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.
Kata
kata yang terakhir ini mengandung ati bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk
orang yang mempunyai sikap atau attitude sosial yang baik, yang mampu bekerja
sama dengan lingkungannya, mampu mengutamakan kepentingan umum daripada
kepentingan sendiri atau golongan. Berdasarkan tujuan tersebut , tujuan
pendidikan dan pengajaran di sekolah selain memberikan kecakapan, juga
mempunyai tugas untuk mengembangkan sikap sosial anak. Salah satu alat untuk
mengembangkan sikap sosial ini adalah dengan menyelenggarakan kelompok belajar.[2]
Proses
pendidikan selalu berlangsung dalam suatu lingkungan, yaitu lingkungan
pendidikan. Lingkungan ini mencakup lingkungan fisik, sosial, intelektual, dan
nilai-nilai. Lingkungan fisik terdiri atas lingkungan alam dan lingkungan alam
dan lingkungan buatan manusia, yang merupakan tempat dan sekaligus memberikan
dukungan dari lingkungan fisik berupa sarana, prasarana serta fasilitas yang
digunakan. Tersedianya sarana, prasarana dan fasilitas fisik dalam jenis jumlah
dan kualitas yang memadai, akan sangat mendukung berlangsungnya proses
pendidikan yang efektif. Kekurangan sarana, prasarana dan fasilitas fisik, akan
menghambat proses pendidikan dan menghambat pencapaian hasil yang maksimal.
Interaksi
pendidikan dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan
masyarakat sekitar merupakan para pendidik, karena mereka berperan memberikan
contoh atau telada kepada anak-anak dan remaja. Guru merupakan pendidik formal,
karena latar belakang pendidikan. Pendidikan berlangsung dalam tiga bentuk
yaitu pengajaran yang lebih terfokus pada pengembangan segi-segi intelektual,
latihan pada segi-segi keterampilan dan bimbingan pada segi-segi afektif.[3]
Belajar
selalu berkenaan dengan perubahan-perubahan pada diri orang yang belajar,
apakah itu mengarah kepada yang lebih baik atau pun yang kurang baik,
direncenakan atau tidak. Hal lain yang juga selalu terkait dalam belajar adalah
pengalaman, pengalaman yang berbtuk interaksi dengan orang lain atau
lingkungannya.[4]
Unsur belajar merupakan fakor bagaimana proses belajar akan berhasil.
Belajar dimulai karena adanya
sesuatu tujuan yang ingin dicapai. Tujuan itu muncul untuk mememnuhi sesuatu
kebutuhan. Perbuatan belajar di arahkan kepada pencapaian sesuatu tujuan dan
untuk memenuhi suatu kebutuhan. Sesuatu perbuata belajar akan efisien apabila
terarah kepada tujuan yang jelas dan berarti bagi individu.
Kesiapan.
Untuk
dapat melakukan perbuatan belajar dengan baik anak atau individu perlu memiliki
kesiapan, baik kesiapan fisik maupun psikis, kesiapan yang berupa kematangan
untuk melakukan sesuatu, maupun penguasaan pengetahuan dan kecakapan-kecakapan
yang mendasarinya.
Situasi.
Dalam
kegiatan belajar berlangsung situasi belajar yaitu tempat, lingkungan, alat dan
bahan yang dipelajari, orang-orang ang turut tersangkut dalam kegiata belajar
serta kondisi siswa yang belajar. Kelancaran hasil dari belajar banyak
dipengaruhi oleh situasi ini, walaupun banyak individu dan pada wkatu tertentu
sesuatu aspek dari situasi belajar ii lebih dominan sedang pada indivisdu atau
waktu lain aspek lain yang lebih berpengaruh
Interprestasi.
Dalam
menghadapi situasi , individu mengadakan interprestasi, yaitu melihat makna
dari hubungan tersebut dan menghubungkannya dengan kemungkinan pencapaian
tujuan yang dapat berhasil atau tidak dapatnya mencapai suatu tujuan.
Respons.
Berpegang
kepada hasil dari interprestasi apakah individu mungkin atau tidak mungkin
mencapai tujuan yang diharapkan, maka ia memberikan respons. respons ini
mungkin berupa usaha coba-coba (trial and error), atau usaha yang penuh
perhitungan dan perencanaan ataupun ia menghentikkan usahannya untuk mencapai
tujuan tertentu.
Konsekuensi.
Setiap usaha akan membawakan hasil, akibat atau konsekuensi entah itu
keberhasilan ataupun kegagalan,demikian pula dengan respons atau usaha belajar
berikutnya. Reaksi terhadap kegagalan. Selain keberhasilan, kemungkinanan lain
yang diperoleh siswa dalam belajar adalah kegagalan. Peristiwa ini akan
menimbulkan perasaan sedih dan kecewa. Kegagalan bisa menurunkan semangat, dan
memperkecil usaha-usaha belajar selanjutnya , tetapi bisa juga sebaliknya,
kegagalan membangkitkan semangat yang berlipat ganda untuk menebus dan menutupi
kegagalan tersebut.[5]
Belajar
merupakan hal yang erat kaitannya dengan prinsip ekonomi. Ada baiknya jika
belajar mempunyai suatu prinsip. Tegasnya, makin cepat seseorang belajar dengan
prestasi yang sama maka makin cepat seseorang belajar dengan prestasi yang sama
maka makin baiklah keadaan itu. Dengan demikian, pada berlajar berlaku pula
hukum efisiensi. Makin cepat seseorang belajar dengan hasil sama maka akan
semakin baik. Cara belajar seperti itulah yang baik dan efisien. Ada pula orang
yang mengatakan bahwa “belajar adalah time
consuming job”.[6]
Banyak
orang yag mengira dan berpendapat bahwa rndahnya prestasi belajar anak di
sekolah disebabkan oleh rendahnya intelegensi si anak. Pendapat yang demikian
tidak seluruhnya benar. Memang ada anak yang memiliki prestasi belajar yang
rendah karena intelegensinya kurang, tetapi tidak semua demikian. Rendahnya
prestasi belajar dapat disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah
pemilihan cara belajar yang kurang tepat. Di dalam proses belajarpun , sering
dijumpai adanya suatu plateau yang salah satu penyebabnya adalah cara atau
teknik belajar yang tepat. Dengan demikian, tidaklah pada tempatnya memandang
secara aprioris bahwa prestasi belajar yang rendah selalu disebabkan oleh
rendahnya intelegensi. [7]
Banyak
faktor yang harus diperhatikan didalam proses belajar tersebut. Ada beberapa
faktor yang mempengaruhi proses belajar. Seperti faktor individu itu sendiri. Faktor
anak atau individu merupakan faktor yang penting. Anak jadi belajar atau tidak
semangat tergantung kepada anak itu sendiri. Walaupun mungkin faktor-faktor
yang lain telah memenuhi persyaratan, tetapi jika individu tersebut tidak
mempunyai kemauan untuk belajar maka proses belajar itu tidak terjadi. Individu
terbentuk dari fisik dan psikis yang masing-masing tidak dapat dipisahkan satu
dengan yang lainnya dan saling mempengaruhi. Fisik mempengaruhi psikis,
dmeikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, baik faktor fisik maupun psikis
perlu diperhatikan dan dijaga dengan sebaik-baiknya. Berarti jika ada gangguan,
baik dari segi fisik maupun psikis, hal tersebut akan berpengaruh terhadap
prestasi belajar.
Kedua
dari faktor lingkungan juga turut memgang peran yang penting. Pengertian
lingkungan disini adalah termasuk peralatan. Oleh karena itu,hal ini harus
mendapatkan perhatia sebaik-baiknya. Faktor lingkungan ini berhubungan dengan
tempat.Tempat belajar yang baik merupakan tempat yang tesendiri, tenang , warna
dindingnya sebaiknya jangan yang tajam atau yang mencolok, dan dalam ruangan jangan sampai ada hal-hal yang dapat
mengganggu perhatian (misalnya, gambar-gambar yang mencolok). Perlu pula
diperhatikan tentang penerangan yang cukup karena penerangan yang kurang baik
akan menyebabkan kelelahan pada mata, yang tentu akan mengganggu jalannya prose
belajar. Ventilasi udara perlu diperhatikan sebaik-baiknya.[8]
Belajar
proses dan belajar hasil. Dimuka telah diutarakan bahwa belajar itu sangat
luas, dapat berlangsung di sekolah, dirumah ataupun di masyarakat, dilakukan
sendiri atau dengan bantuan guru, berkenaan dengan hal-hal yangsederhana
ataupun sangat kompleks. Kegiatan belajar disekolah bersifat formal, disengaja,
dierencanakan, dengan bimbingan guru, serta pendidikan lainnya. Apa yang
hendaknya dicapai dan dikuasai siswa ( tujuan belajar), bahan apa yang harus
dipelajari (bahan ajaran), bagaimana siswa mempelajarinya (metode
pembelajaran), serta bagaimana cara menegahui kemajuan belajar siswa
(evaluasi), telah direncanakan dengan seksama dalam kurikulum sekolah. Kegiatan
belajar yang dilaksanakan disekolah benar-benar disengaja dan direncenakan.
Kegiatan
belajar sangat diperlukan, mengingat semakin banyaknya dan semakin tingginya
tuntutan kehidupan masyarakat. Semakin tinggi taraf perkembangan masyarakat,
semakin tinggi dan banyak tuntutan yang harus dipenuhi, semakin panjang masa
belajar yang harus ditempuh sebelum anak bisa bekerja da hidup dengan wajar di
masyarakat . setiap jenjang pendidikan mulai dari Taman Kanak-Kanak, Sekolah
Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Tingkat Atas, Perguruan
Tinggi, bahkan sampai Pascasarjana disediakan untuk menyiapkan anak agar mampu
memenuhi tuntutan tersebut.[9] Dalam belajar terdapat
faktor yang mempengaruhi proses belajar antara lain
Waktu Istirahat
Kalau
sedang mempelajari sesuatu yang meliputi bahan yang banyakatau proses yang
panjang, dan dilakukan sebagian-sebagian, perlu disediakan waktu-waktu tertentu
untuk jeda dan istirahat sebaiknya tidak banyak kegiatan yang terkait atau
masih berhubungan dengan hal yang dipelajari itu sehingga bahan yang sudah
dipelajari punya cukup kesempatan untuk mengendap dalam ingatan. Jadi, kalau
sedang belajar matematika, jangan berpikir tentang matematika ketika istirahat,
kalau sedang belajar sejarah lupakan sejenak pelajaran sejarah. Istirahat
menghindari kejenuhan otak sehingga proses belajar itu lebih efektif.
Pengetahuan tentang
materi yang dipelajari secara menyeluruh :
Dalam
mempelajari sesuatu lebih baik kalau kita pelajari dulu materi atau bahan yang
ada secara keseluruhan, baru setelah itu pelajari dengan lebih seksama
bagian-bagiannya. Berpikir menyeluruh yang relatif tinggi. Makin rumit
persoalannya, semakin sukar ditangkap materinya sebagai keseluruhan. Oleh
karena itu, kalau memang sesorang kurang mampu, lebih baik ia membagi-bagi dulu
keseluruhan ke dalam bagian-bagian dan atau sub-bagiannya, mempelajari terlebih
dahulu kemudian mempelajari (menghafalkan dan sebagainya) detail-detailnya,
baru menyatukannya kembali ke dalam
suatu keseluruhan.
Dalam
kaitan dengan pendidikan, prinsip pengetahuan materi menyeluruh ini diterapkan
dengan memberitahukan kepada siswa pada proses awal belajar mengajar.
Permasalahan terhadap
materi yang dipelajari
Kalau
kita mempelajari sesuatu, tanpa pemahaman, maka usaha belajar kita akan
memenuhi banyak kesulitan. Misalnya, dua orang disuruh menghafalakan puisi
berbahasa inggris. Orang yang pertama mengerti bahasa inggris, sedangkan orang
yang kedua tidak dapat berbahasa iggris. Akibatnya, bahan yang sama akan
dihafal jauh lebih cepat oleh orang yang sama.
Pengetahuan akan prestasi
sendiri
Kalau
tiap kali kita dapat menegtahui hasil prestasi kita sendiri, yaitu mengetahui
mana-mana yang masih salah (untuk diperbaiki) dan mana-mana yang sudah betul,
maka akan lebih mudah kita memperbaiki kesalahan-kesalahan itu daripada kalau
kita harus meraba-raba terus. Seringnya sudah benar, tapi kemudian dubah
sehingga jadi tidak benar, sementara yang salah malah dibiarkan salah. Dengan
kata lain, pengetahuan akan prestasi sendiri akan mempercepat kita dalam
mempelajari sesuatu.
Transfer
Pengetahuan
kita akan hal-hal yang pernah kita pelajari sebelumnya, bisa mempengaruhi
proses belajar. Pengaruh ini disebut transfer. Transfer dapat berupa positif,
kalau hasil belajar masa lalu memperudah proses belajar yang sekarang, tetapi
transfer juga dapet bersifat negatif, kalau hasil belajar yang lalu justru
menyulitkan proses belajar yang sekarang. [10]
[1] Nana Syaodih Sukmadinata, 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung:
Pt. Remaja Rosdakarya, cet.iii
[2] Bimo Walgito, 2008. Bimbingan dan Konseling (Studi dan Karier), Yogyakarta:
C.V Andi Ofset
[3]Nana Syaodiah Sukmadinata. Op.cit
hlm.5
[4] Ibid, hlm.155
[5] Ibid, hlm.157
[6] Bimo walgito. Op.cit hlm.142
[7] Bimo walgito. Op.cit hlm.142
[8] Ibid,
hlm.143
[9] Nana Syaodiah Sukmadinata. Op.cit
hlm.177-178
[10] Sarlito
W. Sarwono, 2012. Pengantar Psikologi
Umum, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, cet.iv


0 komentar:
Posting Komentar