BIMBINGAN
DAN KONSELING SOSIAL DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Makalah ini di susun untuk memenuhi tugas BK Sosial
Dosen Pengampu : Cici Yulia, M.Pd
Disusun oleh:
Kelompok 12
Asyifa Salwa
Rasyidah NIM.1601015064
Ruri Rinukti
Prabandani NIM. 1601015097
PROGRAM
STUDI BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kepada
Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidyah-Nya kelompok kami dapat
menyelesaikan penulisan makalah ini. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada
Rasulullah Muhammad SAW, yang telah membawa risalah islamiah sehingga kita
berada pada zaman yang tercerahkan dan berkeadaban.
Pada kesempatan ini, penulis
menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu selama proses
penyusunan makalah ini.
Tiada gading yang tak retak, begitu
juga dengan makalah ini, masih banyak terdapat kekurangan. Oleh sebab itu,
penulis sangat mengharapkan masukan, saran, ataupun kritik yang bersifat
membangun dari semua pihak untuk menyempurnakan makalah ini. penulis berharap
makalah ini dapat bermanfaat bagi para calon pendidik serta masyarakat umumnya.
Jakarta,
1 Desember 2017
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Islam merupakan sumber utama dalam membentuk pribadi seorang muslim yang
baik. Dengan berlandasankan Al-Quran dam As-Sunnah, Islam mengarahkan dan
membimbing manusia ke jalan yang diridhoi-Nya dengan membentuk kepribadian yang
berakhlak karimah. Sebagaimana sabda Rosulullah SAW: sesungguhnya aku diutus
untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Nabi diutus oleh Allah untuk membimbing
dan mengarahkan manusia kearah kebaikan yang hakiki dan juga sebagai figur
konselor yang sangat mumpuni dalam memecahkan berbagai permasalahan yang
berkaitan dnegan jiwa manusia agar manusia terhindar dari segala sifat-sifat
yang negatif.
Oleh karena itu, manusia diharapkan dapat saling memberikan bimbingan
sesuai dengan kapasitasnya, sekaligus memberikan konseling agar tetap sabar dan
tawakal dalam menghadapi perjalanan kehidupan yang sebenarnya. Dengan
pendekatan Islami, maka pelaksanaan konseling akan mengarahkan klien kearah
kebenaran dan juga dapat mebimbing dan mengarahkan hati, akal dan nafsu manusia
untuk menuju kepribadian yang berkhlak karimah yang telah terkristalisasi oleh
nilai-nilai ajaran Islam. Dan hal ini perlu diperhatikan oleh seorang guru
untuk menunjang kesuksesan pendidikan Islam disekolah maupun madrasah dalam
melaksanakan bimbingan dan konseling untuk mengentaskan berbagai permasalahan
yang dihadapi oleh peserta didik serta mengarahkannya untuk membentuk insan
kamil yang memiliki kepribadian berakhlak karimah.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
Pengertian Bimbingan Konseling dalam Islam?
2. Apa fungsi dan tujuan Bimbingan dan Konseling dalam
Islam?
3. Apasajakah
asas Bimbingan Konseling dalam
Islam?
4. Bagimana
teknik-teknik konseling dalam Islam?
5. Bagaimana
Urgensi Bimbingan Konseling dalam pembelajaran Islam?
C.
Tujuan
Penulisan
1. Mengetahui pandangan Islam terhadap
konseling
2. Mengetahui fungsi dan tujuan Bimbingan dan Konseling
dalam Islam
3. Mengetahui asas Bimbingan dan Konseling dalam Islam
4. Mengetahui teknik-teknik
konseling dalam Islam
5. Mengetahui Urgensi Bimbingan Konseling dalam pembelajaran
Islam
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A.Pengertian Bimbingan Konseling dalam
Islam
1.
Pengertian
bimbingan dan konseling
Secara etimologi bimbingan dan konseling terdiri dari
dua kata yaitu “bimbingan”(terjemah dari kata guidance) dan “konseling”(berasal
dari kata counseling). Dalam praktik, bimbingan dan konseling merupakan satu
kesatuan aktifitas yang tak bisa dipisahkan. Keduanya merupakan bagian
integral.
Secara istilah bimbingan dan konseling dapat diartikan
dengan bantuan yang diberikan oleh seorang baik laki-laki maupun perempuan yang
memiliki pribadi baik dan pendidikan yang memadai, kepada seseorang (individu)
dari setiap umur untuk membantunya mengembangkan aktifitas-aktifitas hidupnya
sendiri, mengembangkan arah pandangannya sendiri, membuat pilihan sendiri dan
memikul bebannya sendiri (Tohirin, 2013: 15).
2.
Pengertian
bimbingan dan konseling religius
bimbingan dan konseling Islam ialah suatu aktifitas
memberikan bimbingan, pengajaran, dan pedoman kepada peserta didik yang dapat
mengembangkan potensi akal pikiran, kejiwaan, keimanan dan keyakinannya serta
dapat menanggulangi problematika dalam keluarga, sekolah dan masyarakat dengan
baik dan benar secara mandiri berdasarkan pada dasar-dasar yang ada didalam
agama. Dengan menggunakan teknik-teknik tertentu baik yang bersifat lahir
ataupun batin yang dilakukan oleh konselor dalam lingkungan sekolah atau
madrasah.
Pengertian bimbingan dan konseling Islam menurut M
Arifin adalah: Kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka memberikan
bantuan kepada orang lain yang mengalami kesulitan-kesulitan rohaniah dalam
lingkungan hidupnya agar orang tersebut mampu mengatasinya sendiri karena
timbul kesadaran atau penyerahan diri terhadap kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa,
sehingga timbul pada diri pribadinya suatu cahaya harapan kebahagian hidup saat
sekarang dan dimasa yang akan datang.
Dengan demikian, bimbingan dan konseling Islam adalah
suatu usaha pemberian bantuan kepada seseorang (individu) yang mengalami
kesulitan rohaniah baik mental dan spiritual agar yang bersangkutan mampu
mengatasinya dengan kemampuan yang ada pada dirinya sendiri melalui dorongan
dari kekuatan iman dan ketakwaan kepada Allah SWT, atau dengan kata lain
bimbingan dan konseling Islam ditujukan kepada seseorang yang mengalami
kesulitan, baik kesuliatan lahiriah maupun batiniah yang menyangkut
kehidupannya di masa kini dan masa datang agar tercapai kemampuan untuk
memahami dirinya, kemampuan untuk mengarahkan dan merealisasikan dirinya sesuai
dengan potensi yang dimilikinya dengan tetap berpegang pada nilai-nilai
Islam.
3.
Bimbingan
dan Konseling dalam Dunia Islam
Keberadaan Bimbingan dan Konseling Islam dalam arti
sederhana dan hakiki sudah ada sejak dahulu kala. Sejarah telah menjabarkan
bahwa Nabi Adam as pernah merasa berdosa dan bersalah kepada Allah Swt. “Lalu
keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan
semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi
yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup
sampai waktu yang ditentukan.” (Q.S. Al Baqarah [2]: 36).
Rasa dosa merupakan salah satu permasalahan yang perlu
ditangani di dalam bimbingan dan konseling. Pada akhirnya, perasaan berdosa dan
salah yang dirasakan oleh Nabi Adam as dihapuskan dengan hidayah Allah Swt.
Dijelaskan pada ayat berikutnya, yang artinya: “Kemudian Adam menerima beberapa
kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha
Penerima tobat lagi Maha Penyayang.(Q.S. Al-Baqarah[2]: 37).
Banyak contoh-contoh bimbingan dan konseling yang
telah dilakukan oleh para rasulullah dan para sahabat nabi dizamannya. Namun,
mereka tidak menamakannya sebagai bimbingan dan konseling. Walaupun, apabila
dilihat dari segi disiplin ilmunya, memang terdapat perbedaan. Bimbingan dan
konseling yang dilakukan oleh para nabi dan para shahabat merujuk pada kitab
suci yang diturunkan oleh sang pencipta, Allah Swt. Alquran adalah pedoman
hidup ummat Islam yang di dalamnya penuh dengan ajaran, bimbingan, dan contoh
proses, termasuk bimbingan dan konseling. Bahkan, Allah Swt.dalam menyampaikan
ayat-ayatnya banyak berupa bimbingan dan konseling.
Menurut Kamal Ibrahim Mursi aktifitas konseling yang
dijumpai pada zaman klasik Islam dikenal dengan nama hisbah atau ihtisab,
konselornya disebut muhtasib, dan klien dari hisbah tersebut dinamakan
muhtasab’alaih. Khalifah Umar bin al Khattab adalah orang pertama yang mengatur
pelaksanaan hisbah sebagai suatu sistem dengan merekrut dan mengorganisir
muhtasib (konselor). Kemudian, ia menugaskan mereka ke segala pelosok negeri
kaum muslimin guna membantu orang-orang yang bermasalah. Khalifah berikutnya
juga meneruskan kebijaksanaan Umar sehingga ketika itu jabatan muhtasib menjadi
jabatan yang terhormat di mata masyarakat.
B.
fungsi dan tujuan Bimbingan dan Konseling dalam Islam
1.
Tujuan
Bimbingan Konseling dalam Islam
Secara garis besar tujuan bimbingan konseling islam dapat dirumuskan untuk
membantu individu mewujudkan dirinya sebagai manusia seutuhnya agar mencapai
kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Sedangkan tujuan dari
bimbingan dan konseling dalam Islam yang lebih terperinci adalah sebagai
berikut:
a) Untuk
menghasilkan suatu perbuatan, perbaikan, kesehatan, dan kebersihan jiwa dan
mental. Jiwa menjadi tenang, jinak dan damai, bersikap lapang dada dan
mendapatkan pencerahan taufik dan hidayah Tuhannya.
b) Untuk
menghasilkan suatu perubahan, perbaikan dan kesopanan tingkah laku yang dapat
memberikan manfaat baik pada diri sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan
kerja maupun lingkungan sosial dan alam sekitarnya.
c) Untuk
menghasilkan kecerdasan rasa (emosi) pada individu sehingga muncul dan
berkembang rasa toleransi, kesetiakawanan, tolong-menolong dan rasa kasih
sayang.
d) Untuk
menghasilkan kecerdasan spiritual pada diri individu sehingga muncul dan
berkembang rasa keinginan untuk berbuat taat kepada Tuhannya, ketulusan mematuhi
segala perintahNya serta ketabahan menerima ujianNya.
e)\Untuk
menghasilkan potensi Ilahiyah, sehingga dengan potensi itu individu dapat
melakukan tugasnya sebagai khalifah dengan baik dan benar; ia dapat dengan baik
menanggulangi berbagai persoalan hidup; dan dapat memberikan kemanfaatan dan
keselamatan bagi lingkungannya pada berbagai aspek kehidupan.
f)Untuk
mengembalikan pola pikir dan kebiasaan konseli yang sesuai dengan petunjuk
ajaran islam (bersumber pada Al-Quran dan paradigma kenabian.
2.
Fungsi Bimbingan dan Konseling
Islami.
Fungsi
bimbingan dan konseling Islami dapat dirumuskan sebagai berikut :
a)
Fungsi preventif, yakni membantu
individu menjaga atau mencegah timbulnya masalah bagi dirinya
b)
Fungsi kuratif atau korektif,
membantu individu memecahkan masalah yang sedang di hadapi atau di alami
c)
Fungsi preventif, yakni membantu
individu menjaga agar situasi atau kondisi yang semula tidak baik telah menjadi
baik (terpecahkan ) itu kembali menjadi tidak baik (menimbulkan masalah
kembali)
d)
Fungsi developmental atau
pengembangan, yakni membantu individu memelihara dan mengembangkan situasi dan
kondisi yang telah baik agar tetap baik dan menjadi lebih baik, sehingga tidak
memungkinkan menjadi sebab munculnya masalah baginya.
C.
Asas-Asas
Bimbingan Konseling dalam Islam
Telah disebutkan dimuka bahwa bimbingan dan konseling
Islami itu berlandaskan Al- Qur’an dan Sunnah Rasul, ditambah dengan berbagai
landasan filosofis dan landasan
keimanan. Berdasarkan landasan-landasan tersebut dijabarkan asas-asas atau
prinsip-prinsip pelaksanaan bimbingan dan konseling sebagai berikut:
1. Asas
Fitrah Manusia
menurut islam, dilahirkan dalam atau dengan membawa fitrah, yaitu berbagai kemampuan
potensi bawaan dan kecenderungan sebagai muslim atau beragama muslim. Oleh
karna itu, Bimbingan dan konseling islami merupakan bantuan kepada klien atau
konseli untuk mengenal, memahami dan menghayati fitrahnya, sehingga segala
gerak tingkah laku dan tindakannya sejalan dengan fitrahnya tersebut, Sehingga
dengan demikian akan mampu mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
2. Asas
“Lillahi Ta’ala”
Bimbingan dan konseling islami diselengarakan
semata-mata karena Allah. Konsekuensi dari asas ini berarti pembinaan melakukan
tugasnya dengan penuh keikhlasan, tanpa pamrih, sementara yang dibimbing pun
menerima atau meminta bimbingan dan atau konseling dengan ikhlas dan rela,
karena semua pihak merasa bahwa semua yang dilakukan adalah karena Allah
semata, sesuai fungsi dan tugasnya sebagai makhluk Allah yang harus semata
mengabdi kepada-Nya.
3. Asas
bimbingan seumur hidup
Manusia hidup betapapun tidak akan ada yang sempurna
dan selalu bahagia. Dalam kehidupannya mungkin saja manusia akan menjumpai
berbagai kesulitan dan kesusahan. Oleh karna itu bimbingan dn konseling islami
diperlukan selama hayat masih dikandung badan.
4. Asas
kesatuan jasmaniah-rohaniah
Bibingan dan konseling islami memperlakukan kliennya
sebagai makhluk jasmaniah- rohaniah, tidak memandangnya sebagai biologis
semata, atau makhluk rohaniah semata. Bimbingan dan konseling islami membantu
individu untuk hidup dalam keseimbangan jasmaniah dan roahaniah tersebut.
5. Asas
keseimbangan rohaniah
Rohani memiliki kemampuan berpikir, merasakan atau
menghayati dan kehendak atau hawa nafsu, serta juga akal. Bimbingan dan konseling islami menyadari
keadaan kodrati manusia tersebut, dan dengan berpijak pada firman-firman tuhan
serta hadist nabi, membantu klien memperoleh keseimbangan diri dalam segi
mental rohaniah tersebut dan diajak untuk menginternalisasikan norma dengan
mempergunakan semua kemampuan rohaniah potensialnya, bukan hanya mengikuti hawa
nafsu semata.
6. Asas
kemaujudan individu
Bimbingan dan konseling, berlangsung pada citra
manusia menurut islam, memandang seseorang individu merupakan suatu maujud
tersendiri. Individu mempunyai hak, mempunyai perbedaan individu dari yang
lainnya, dan mempunyai kemerdekaan pribadi sebagai konsenkuensi dari haknya dan
kemampuan fundamental potensial roahaniahnya.
7. Asas
asosilitas manusia
Manusia merupakan makhluk sosial yang mana dalam
bimbingan dan konseling islami, sosialitas manusia diakui dengan memperhatikan
hak individu; hak individu juga diakui dalam batas tanggung jawab sosial.
8. Asas
kekhalifahan manusia
Didalam islam, manusia diberi kedudukan yang tinggi
sekaligus tanggung jawab yang besar,
yaitu sebagai pengelola alam semesta (khalifatullah fil ard). Dengan kata lain,
manusia dipandang sebagai makhluk berbudaya yang mengelola alam sekitar
sebaik-baiknya.
Dan (ingatlah) tatkala Tuhan engkau berkata kepada
Malaikat : “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah”.
Berkata mereka : “Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di
dalam nya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau
dan memuliakan Engkau?”Dia berkata : “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa
yang tidak kamu ketahui.” (QS.Al-Baqarah: 30) Kedudukan manusia sebagai
khalifah itu dalam keseimbangan dengan kedudukannya sebagai makhluk Allah yang
harus mengabdi kepada-Nya. Dengan demikian, jika memiliki kedudukan tidak akan
memperturutkan hawa nafsu semata.
9. Asas
keselarasan dan keadilan
Islam menghendaki kehormonisan, keselarasan,
keseimbangan, keserasian dalam segala segi. Dengan kata lain, islam menghendaki
manusia berlaku adil terhadap hak dirinya sendiri, hak orang lain, hak alam
semesta, dan hak tuhan.
10. Asas
pembinaan akhlaqul karimah
Manusia, menurut pandangan islam, memiliki sifat-sifat
yang mulia, sekaligus mempunyai sifat-sifat buruk. Sifat-sifat baik merupakan
sifat yang dikembngkan oleh bimbingan dan konseling islami. Bimbingan dan
konseling islami membantu klien untuk memelihara, mengembangkan, megembangkan
dan menyempurnakan sifat-sifat yang baik tersebut.sejalan dengan tugas dan
Rasulullah diutus oleh Allah SWT. Seperti disebutkan dalam firmannya yang
berbunyi:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.(QS. al Ahzab: 32)
11. Asas
kasih sayang
Setiap manusia memerlukan cita kasih dan rasa sayang
dari orang lain. Rasa kasih sayang ini dapat mengalahkan dan menundukkan banyak
hal. Bimbingan dan konseling islami dilakukan dengan berlandaskan kasih dan
sayang, sebab hanya dengan kasih sayanglah bimbingan dan konseling berhasil.
12. Asas
saling menghargai dan menghormati
Dalam bimbingan dan konseling islami, kedudukan
pembimbing dan klien pada dasarnya sama atau sederajat, perbedaannya terletak
pada fungsinya saja, yakni pihak yang satu memberi bantuan dan pihak yang satu
menerima bantuan. Hubungan yang terjalin antara pihak pembimbing dengan klien
merupakan hubungan yang saling menghormati atau menghargai sesuai dengan
kedudukan sebagai makhlik Allah.
13. Asas
musyawaroh
Bimbingan dan konseling islami dilakukan dengan asas
musyawaroh; artinya antara pembimbing/konselor dengan klien /konseli terjadi
dialog yang baik, satu sama lain tidak mendiktekan, tidak ada perasaan
tertekan, dan keinginan tertekan.
14. Asas
keahlian
Bimbingan dan konseling islami dilakukan oleh
orang-orang yang memang memiliki kemampuan dibidang bimbingan dan konseling,
baik dalam metodelogi dan tekhnik- tekhniknya.
D.
Teknik-teknik
konseling dalam Islam
1. Teknik
yang bersifat lahir
Teknik yang bersifat lahir ini menggunakan alat yang
dapat di lihat, di dengar atau dirasakan oleh klien (anak didik)yaitu dengan
menggunakan tangan atau lisan antara lain:
a. Dengan
menggunakan kekuatan, power dan otoritas
b. Keinginan,
kesungguhan dan usaha yang keras
c. Sentuhan
tangan (terhadap klien yang mengalami stres dengan memijit di bagian kepala,
leher dan pundak)
d. Nasehat,
wejangan, himbauan dan ajakan yang baik dan benar. Maksudnya dalam konseling,
konselor lebih banyak menggunakan lisan yang berupa pertanyaan yang harus
dijawab oleh klien dengan baik, jujur dan benar. Agar konselor bisa mendapatkan
jawaban dan pernyataan yang jujur dan terbuka dari klien, maka kalimat yang
dilontarkan konselor harus mudah dipahami, sopan dan tidak menyinggung perasaan
atau melukai hati klien. Demikian pula ketika memberikan nasehat hendaklah
dilakukan denagn kalimat yang indah, bersahabat, menenangkan dan menyenangkan.
e) Membacakan
do'a atau berdo'a dengan menggunakan lisan
f) Sesuatu
yang dekat dengan lisan yakni dengan air liur hembusan (tiupan)
2. Teknik
yang Bersifat Batin
Yaitu teknik yang hanya dilakukan dalam hati dengan
do'a dan harapan namun tidak usaha dan upaya yang keras secara konkrit, seperti
dengan menggunakan potensi tangan dan lisan. Oleh karena itulah Rosululloh
bersabda "bahwa melakukan perbuatan dan perubahan dalam hati saja
merupakan selemah-lemahnya iman".
Teknik konseling yang ideal adalah dengan kekuatan,
keinginan dan usaha yang keras dan sungguh-sungguh dan diwujudkan dengan nyata
melalui perbuatan, baik dengan tangan, maupun sikap yang lain. Tujuan utamanya
adalah membimbing dan mengantarkan individu (anak didik) kepada perbaikan dan
perkembangan eksistensi diri dan kehidupannya baik dengan Tuhannya, diri
sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan dan lingkungan masyarakat.
E. Urgensi
Bimbingan Konseling dalam pembelajaran Islam
Dasar
pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling disekolah atau madrasah,
bukan terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (perundang undangan)
atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah upaya memfasilitasi
peserta didik agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai
tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual,
social, dan moral-spiritual).
Sebagai seorang individu yang berada dalam proses
berkembang atau menjadi (on becaming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau
kemandirian. Untuk mencapai kematangan dan kemandirian tersebut, siswa
memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan
tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya
serta proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam arus linier, lurus,
atau searah dengan potensi, harapan dan nilai-nilai yang dianut.
Perkembangan siswa tidak lepas dari pengaruh
lingkungan, baik fisik, psikis, maupun social. Sifat yang melekat pada
lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat
mempengaruhi gaya hidup warga masyarakat. Apabila perubahan ang terjadi itu
sulit diprediksi, atau diluar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan
kesenjangan perkembangan perilaku konseli,seperti terjadinya stagnasi
perkembangan, masalah-masalah pribadi atau penyimpangan perilaku. Iklim
lingkungan kehidupan yang kurang sehat, seperti maraknya tayangan televisi dan
media-media lain, ketidakharmonisan dalam kehidupan keluarga, dan dekandensi
moral orang dewasa ini mempengaruhi perilaku atau gaya hidup siswa yang
cenderung menyimpang dari kaidah-kaidah moral, seperti pelanggaran tata tertib,
pergaulan bebas, tawuran, dan kriminalitas.
Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang
tidak diharapkan seperti yang disebutkan, adalah mengembangkan potensi siswa
dan memfasilitasi mereka secara sistematik dan terprogram untuk mencapai
standar kompetensi kemandirian.
Dengan demikian, pendidikan yang bermutu efektif dan
ideal adalah pendidikan yang tidak mengesampingkan bimbingan dan konseling.
Pendidikan yang mengabaikan bimbingan dan konseling, hanya akan menghasilkan
siswa yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki
kemampuan atau kematangan dalam aspek kepribadian.
Untuk mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan
itu bimbingan konseling disekolah di orientasikan kepada upaya memfasilitasi
perkembangan potensi siswa, yang meliputi aspek pribadi, belajar dan karir,
atau terkait dengan perkembangan siswa sebagai makhluk yang berdimensi
biopsikososiospiritual (biologis, psikis, sosial dan spiritual)
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
A.
Simpulan
Bimbingan
dan konseling dalam perspektif Islam ialah suatu aktifitas memberikan
bimbingan, pengajaran, dan pedoman kepada peserta didik yang dapat
mengembangkan potensi akal pikiran, kejiwaan, keimanan dan keyakinannya serta
dapat menanggulangi problematika dalam keluarga, sekolah dan masyarakat dengan
baik dan benar secara mandiri berdasarkan Al-Qur'an dan Al-Hadis. Landasan yang
benar dalam melaksanakan proses bimbingan dan konseling agar dapat berlangsung
dengan baik dan menghasilkan perubahan- perubahan positif bagi klien mengenai
cara dan paradigma berfikir, cara menggunakan potensi nurani, cara berperasaan,
cara berkeyakinan dan cara bertingkah laku berdasarkan Al-Quran dan
As-Sunnah.
Al-Qur’an
dan Sunnah Rasul dapatlah diistilahkan sebagai landasan ideal dan konseptual
bimbingan dan konseling islami dan konseptual bimbingan dan konseling
islami. Dari al-Qur’an dan Sunnah Rasul
itulah gagasan , tujuan dan konsep-konsep bimbingan dan konseling islami
bersumber. Jadi, bimbingan dan konseling islami adalah bimbingan sebagaimana
kegiatan bimbingan lainnya, tetapi dalam seluruh aspek prosesnya berlandaskan
ajaran islam (al-Qur’an dan as-Sunnah).
Bimbingan dan konseling islami merupakan proses pemberian bantuan
artinya pembimbing tidak menentukan atau mengharuskan, hanya membantu klien agar mampu hidup selaras dengan
ketentuan dan petunjuk Allah SWT. Maksudnya, hidup searah dengan ketentuan
Allah ialah sesuai dengan kodrat yang ditentukan Allah dan berkewajiban
mengabdi kepada-Nya dalam arti seluas-seluasnya. Dengan menyadari
eksistensinnya sebagai makhluk Allah, diharapkan manusia dalam hidupnya tidak
berperilaku yang keluar dari ketentuan dan petunjuk Allah, sehingga hidupnya
akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.
B.
SARAN
Kami berharap dengan disusunnya makalah ini bisa
memberikan pengetahuan mengenai “Bimbingan dan Konseling Perspektif Islam”.
Semoga Allah menjadikan makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Rahman Saleh dan Muhbib Abdul Wahab. 2004. Psikologi Suatu Pengantar
Dalam
Perspektif Islam, Jakarta :
Kencana.
Prayitno, H.
& Erman Amti. 2004. Dasar-Dasar
Bimbingan & Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
http://fuadmukti.blogspot.co.id/2014/12/bimbingan-konseling-dalamislam.html/.Diakses pada tanggal 1 Desember
2017 pukul 18.30 WIB.

